Lebaran Bukan Untuk Menunggu Pembagian THR

18 Jul 2014

Ada banyak kekeliruan yang berkembang di masyarakat, entah karena mereka tidak tahu atau akibat tak adanya kemauan untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Satu hal yang cukup menarik disimak adalah masalah Tunjangan Hari Raya, yang lebih dikenal dengan nama THR. Bahkan istilah THR kadang lebih populer dibandingkan dengan perkara yang lebih penting terkait dengan perayaan hari suci umat muslim sedunia.

Terkait dengan realitas tersebut maka penulis mempunyai 7 alur penilaian yang berhubungan erat dengan fenomena THR menjelang lebaran. Mari kita simak 7 hal yang penulis maksud ini dengan satu harapan bahwa kita bisa menempatkan masalah THR pada posisi yang tepat.

Pertama, sebagian orang bangga mendapatkan THR meskipun mereka tidak menjalankan puasa. Ini merupakan fenomena yang sangat berlawanan dengan makna hari raya idul fitri. Kita semua mengerti bahwa hari raya idul fitri adalah milik mereka yang menjalankan ibadah puasa .

Kedua, sebagian orang menangis ketika menerima THR di akhir bulan ramadhan. Ini merupakan sebuah fakta dan bukan satu rekayasa. Boleh jadi beberapa orang tersenyum ketika mereka menerima THR dalam jumlah yang besar, namun hati mereka menangis karena selama bulan ramadhan ini mereka tidak menjalankan ibadah puasa.

Ketiga, sebagian orang memanfaatkan THR sebagai alat suap kepada pihak lain. Dengan kedok memberi THR, beberapa pihak memakai THR sebagai sarana untuk menyuap orang lain. Tentu kebiasaan ini tak boleh dibiarkan, karena bisa merusak citra ajaran suci dan mengaburkan makna dari lebaran itu sendiri.

Keempat, semua orang yang telah menjalankan puasa akan sangat senang ketika menerima THR. Bagi orang yang sudah menunaikan kewajiban berpuasa di bulan ramadhan maka tak ada lagi yang mereka tunggu selain hari raya idul fitri. Karena tujuan utama mereka menjalankan ibadah adalah untuk membersihkan diri dan memohon ampunan Alloh SWT.Namun demikian senyum lebar yang membahagiakan akan terlihat dengan jelas ketika mereka menerima Tunjangan Hari Raya.

Kelima, sebagian orang memakai THR untuk merekatkan kembali hubungan keluarga yang renggan atau retak. THR secara positif bisa menjadi alat yang cukup efektif untuk merekatkan kembali tali persaudaraan yang kurang kuat. Mungkin selama ini ada masalah bisnis atau problem lain yang membuat antara satu keluarag dengan lainnya saling terpisah.

Keenam, sebagian orang akan meneteskan air mata ketika melihat tetangga menerima THR . Saat kit menerima THR ada baiknya jangan terlalu dipamerkan atau diceritakan pada orang lain atau tetangga . Sebab tidak semua orang menerima THR, terlebih ketika orang yang anda ajak cerita itu secara financial tidak kuat. Jauh lebih baik anda berbagi dengan THR yang anda terima daripada bercerita kesana kemari mengenai jumlah THR yang anda terima.

Ketujuh, sebagian orang menindas orang lain dengan tidak memberikan THR. Sungguh kejam perusahaan atau majikan yang tak tahu berterima kasih dengan karyawannya. Atau memberikan THR tetapi jumlahnya sangat tidak sebanding dengan pengorbanan yang disumbangkan oleh para pegawai dan karyawan. Sebagian majikan/pimpinan memandang bahwa THR akan mengurangi income perusahaan dan sebagai bentuk pemborosan anggaran.

Demikianlah 7 penilaian dan pandangan penulis mengenai THR. Secara pribadi penulis percaya bahwa mendapatkan Tunjangan Hari Raya bukanlah sebuah keharusan, namun yang lebih penting dari itu kita semua berhasil menjalankan puasa untuk meraih kebahagiaan di hari raya idul fitri.

Jangan sampai puasa kita rusak atau merusak puasa dengan menipu orang lain lewat kegiatan yang dibungkus dengan nama THR padahal tujuan utamanya untuk merugikan sesama. THR hanyalah penunjang untuk menambah kebahagiaan lahir di hari lebaran, namun jangan sampai THR membuat kesucian batin kita rusak kawan. Terima kasih


TAGS sholat sunat Wanita ngaBLOGburit


-

Author

Follow Me